Mengenal Fungsi GETKWORD Pada Autolisp

040710_0124_MengenalFun1.png

Getkword adalah sebuah fungsi untuk memasukin data dengan di gabung fungsi initget dan di kontrol oleh batasan bit, artinya bila anda menggunakan fungsi ini, maka data yang akan di masukin sudah di set sedemikian rupa, bila memasukin data di luar batasan maka hasilnya akan “Invalid option keyword.”, biasanya fungsi getkword terlebih dahulu di ikuti oleh fungsi “initget”, fungsi ini akan mengontrol terhadap fungsi getkword, fungsi initget selalu di ikuti sebuah nilai bit, nilai bit dengan angka tertentu akan membatasi pemakai memasukin data di luar dari ketentuan initget tadi.


Gambar 1. Format utama dari fungsi getkword.


Gambar 2. Fungsi getkword yang di ikuti oleh fungsi initget.

Nilai bits dengan ketentuannya.

Kode bit akan mengijinkan atau tidak mengijinkan terhadap pemakai ketika memasukin input data, bit bisa ditambahkan bersama yang lain untuk mendapatkan nilai kombinasi dari mulai nilai 0 s/d 255, jika nilai bit tidak di sertakan asumsinya tanpa kondisi.

1 (bit 0)  Mencegah pemakai menekan tombol enter.

2 (bit 1)  Mencegah pemakai menekan tombol nol.

4 (bit 2)  Mencegah pemakai memasukan nilai negatif.

8 (bit 3)  Mengijinkan ke pemakai untuk memasukan sebuah titik di luar batasan gambar, kondisi bisa di pergunakan untuk fungsi pemasukan yang akan datang dari pemakai, jika variable “limcheck” di set ke yang berlaku.

16 (bit 4)  tidak di gunakan.

32 (bit 5)  Menggunakan garis dashed ketika menggambar sebuah garis rubber band atau kotak, Untuk itu fungsi ini pemakai dapat memilih sebuah titik yang terpilih lokasinya di area gambar, nilai bit ini menyebabkan garis rubber band atau kotak menjadi dashed sebagai pengganti solid. (beberapa tampilan drivers di gunakan khusus membedakan warna sebagai pengganti garis dashed, jika systim variable POPUPS adalah 0, AutoCAD akan mengabaikan bit itu.

64 (bit 6)  Melarang memasukan input kordinat Z pada fungsi getdist, sebuah aplikasi akan menjamin fungsi ini kembali ke nilai 2D.

128 (bit 7)  Mengijinkan bebas data input jika itu sebagai kunci kata, sebagai penghotmatan terhadap kontrol bit yang lain dan kata kunci yang terdaftar. Bit ini lebih di utamakan di atas bit 0, jika bit 7 dan 0 di set maka pemakai cukup tekan tombol enter, maka akan di hasilkan sebuah kalimat batal.

 

 

CATATAN : Masa yang akan datang atau ke depannya versi Autolisp mungkin akan menggunakan initget kontrol bit, untuk mencegah setting yang tidak terdaftar.

 

Contoh fungsi getkword dengan fungsi initget dan fungsi lainnya.


Gambar 3. Fungsi getkword di gabung dengan fungsi lain.

 

Contoh lain


Gambar 4. Fungsi initget dengan nilai kode 1.

Mengenal Fungsi ALERT Pada Autolisp

040510_2342_MengenalFun1.png

Alert adalah sebuah fungsi untuk menampilkan sebuah dialog box, yang berisi sejumlah kalimat perhatian, peringatan atau kekeliruan pada sebuah program, fungsi ini bisa berdiri sendiri maupun bergabung dengan fungsi lain, fungsi alert sangat berguna untuk memberi peringatan ataupun informasi pada pemakai sebelum sebuah program di lanjutkan.

Gambar 1. Bentuk format utama dari fungsi alert.

Gambar 2. Tampilan fungsi alert.

Jika kalimat fungsi alert panjang buatlah menjadi berjajar ke bawah, contohnya seperti di bawah ini

Gambar 3. Kalimat pada fungsi alert yang panjang di buat berjajar ke bawah.

Gambar 4. Tampilan kalimat yang di jajarkan ke bawah.

Fungsi “strcat” adalah untuk menggabungkan antara sebuah kalimat dengan kalimat lain, dan fungsi “\n” supaya kalimat di tempatkan pada alinea baru.

Di gabungkan dengan variable lain

Gambar 5. Alert di gabung dengan variable lain.

Gambar 6. Fungsi alert di sisipi variable lain.

Bentuk lain kalimat yang di jajar ke bawah bisa di gunakan cara ini

Gambar 7. Cara lain format kalimat yang di jajar ke bawah.

Gambar 8. Hasil tampilan dari kode gambar 7.

Mengenal Fungsi COND Pada Autolisp

040510_0126_MengenalFun1.png

Salah satu fungsi yang juga banyak di gunakan para programer Autolisp adalah “COND”, cond adalah merupakan singkatan untuk “CONDITION”, fungsi ini merupakan fungsi yang semua variable inputnya benar semua, tetapi harus di pilih salah satu.

Format utama cond seperti ini

Gambar 1. Bentuk format untuk fungsi cond.

Variable “opt” adalah variable input dari pemakai yang akan memasukan nilai, fungsi alert disini adalah salah satu contoh fungsi yang di gunakan, anda bisa ganti dengan fungsi program lain, tergantung kebutuhan dari program tersebut, jadi cara kerja fungsi “cond” ini adalah bila pemakai memasukin nilai “1 s/d 4″, semua nilai ini adalah benar tetapi program harus memilih salah satu nilai.

Contoh fungsi cond

Gambar 2. Salah satu contoh fungsi cond di gunakan lebih luas.

Pada gambar 2 di atas pemakai akan memilih salah satu tipe baut yang akan di olah, karena pada variable “ext_db” hanya membutuhkan data dari asosiasi tipe baut tersebut.

Gambar 3. Contoh lain penggunaan cond.

Mengenal Fungsi SSNAME pada Autolisp

032810_0117_MengenalFun1.png

Bagi programer pemula atau yang masih belajar pasti akan bingung bila mendapatkan fungsi “SSNAME” ini, ssname adalah “selection set name” tetapi ssname ini tidak bisa berdiri sendiri harus ada fungsi lain yang menyertainya, diantaran fungsi “ssget”, “sslength”.

Format utama dari ssname seperti ini

Gambar 1. Bentuk format dari fungsi ssname.

Ssx adalah variable yang di dapat dengan menggunakan fungssi “ssget” dan cnt adalah variable bilangan, biasanya di mulai dari angka 0. Hasil diatas akan berupa nama sebuah entity.

Gambar 2. Hasil perolehan dari kode gambar 1.

Di bawah ini kode ssname secara lengkap

Gambar 3. Contoh lengkap fungsi ssname beserta fungsi yang lain.

Bagaimana cara kerja fungsi ssname ini, adalah sebagai berikut

Variable ssx dengan fungsi “ssgetnya” akan menangkap semua objek gambar yang anda pilih dalam lingkup window,dengan hasil seperti ini.

Gambar 4. Hasil tangkapan objek gambar oleh fungsi ssget.

Kemudian karena hasilnya berupa “selection set: 6″ yang kita tidak bisa di mengerti, kita tidak tahu ada berapa objek yang dapat di tangkap oleh fungsi ssget tersebut, maka harus di ukur panjang atau banyaknya objek yang di tangkap itu, dilakukan dengan fungsi “sslength”, dengan hasil ini.

Gambar 5. Jumlah hasil tangkapan objek.

Langkah berikutnya men set variable “cnt” ke angka 0, kemudian dengan fungsi ssname kita akan mengetahui nama dari objek yang di tangkap tadi, perlu di ketahui bahwa objek yang di tangkap oleh fungsi ssget adalah objek yang terakhir di buat.

Gambar 6. Sebuah nama dari objek.

Nama entity sudah di ketahui, tetapi kita masih belum tahu objek apa itu, yang jelas seperti telah di sebutkan di atas bahwa objek itu pasti objek yang terakhir di buat itu saja. Langkah berikut kita akan uraikan lebih rinci nama entity tersebut dengan bantuan fungsi “entget”

Gambar 7. Isi dari pada sebuah entity.

Wah….pasti semakin tidak mengerti hasil pada gambar 7 itu, bagaimana cara mengetahui arti uraian di atas itu, sekarang anda buka editor “Visual LISP”, dengan cara arahkan kursor anda ke menu “Tools -> Autolisp -> Visual LISP editor”, atau ketik saja di command prompt “VLIDE”, setelah editor terbuka kemudian kursor anda arahkan ke menu “Help”, setelah terbuka pilih tab “Contents”, kemudian cari “DFX Reference -> Entities Section -> Text” , kolom sebelah kanan akan terbuka dengan uraian seperti ini.

Pada gambar 7 di atas coba anda perhatikan pasti terdiri dari “(1 . “Adesu”)”, angka 1 menunjukan keterangan “string” dan kata “Adesu” adalah text yang berada di area gambar, nilai angka 40 menunjukan tinggi huruf, nilai 10 menunjukan titik insert dari huruf tersebut dan angka 7 menunjukan jenis huruf yang di pakai, kalau anda ingin lebih detail lihat pada gambar 8.

Gambar 8. Uraian dari sebuah entity name.

Ok mari kita lanjutkan, untuk mengetahui nama objek kita gunakan gabungan fungsi antara “cdr” dan “assoc”, apa sih arti dari kata assoc itu, assoc adalah kepanjangan dari kata “association”, karena yang akan kita urai adalah “(0 . “TEXT”)”, nilai “0″ adalah asosiasi dari text, bagaimana untuk memisahkan antara “0″ “.” Dan “TEXT”,kita gunakan fungsi “CDR” (fungsi CDR akan di bahas di lain sesi). Dan hasilnya akan seperti ini

Gambar 9. Nama entity sudah diketahui yaitu sebuah text.

Untuk lebih gampang di ketahui oleh user atau pemakai, fungsi alert di munculkan sebuah dialog dengan menyebutkan nama objeknya, di lanjutkan dengan seting cnt di tambah satu nilainya, sehingga fungsi repeat akan berlanjut sesuai panjang atau banyaknya entity.

 

Gambar 10. Sebuah fungsi alert menampilkan nama objek.

Mengenal Fungsi IF pada Autolisp

032710_0230_MengenalFun1.png

Fungsi “IF” banyak sekali di gunakan pada setiap program, tujuannya tiada lain untuk lebih menekankan fungsi sebelumnya , khususnya pada setiap variable input yang biasa terdapat simbol “<0,0,0>”, simbol tersebut menandakan dalam keadaan default pemakai cukup menekan tombol enter saja, tetapi hasil dari variable tersebut biasanya kalau ngak “nil” atau “”, ini yang akan merepotkan untuk program selanjutnya, makanya disini fungsi if akan menset ke nilai “<0,0,0,>” makanya fungsi ini sangat bermanfaat.

Format utama dari fungsi “if” seperti ini

Gambar 1. Format utama dari fungsi if.

Bagaimana cara kerja if, uraiannya seperti ini fungsi if akan mendeteksi variable yang ada dalam kurung atau “(= 10 11)”, bila variable angka 10 nilainya sama dengan nilai varia ble angka 11, maka akan di jawab “(alert “Jawaban anda benar”)”, dan bila persamaan itu nilainya salah maka akan di jawab “(alert “jawaban anda salah”)”.

Selain ada dua pilihan jawaban, anda bisa memutuskan untuk satu jawaban saja, contohnya seperti ini

Gamabar 2. Fungsi if dengan satu jawaban atau pilihan.

Contoh fungsi if dengan fungsi and

Gambar 3. Fungsi if di gabung dengan fungsi and.

Beberapa contoh fungsi if di gabung dengan fungsi lain

Gambar 4. Beberapa contoh fungsi if di gabung dengan fungsi lain.